Senin, 21 Juli 2008

Hati Seorang Wanita

Suatu malam, ketika sedang berjalan menelusuri pantai, seorang pria menemukan lampu tua yang diletakkan di atas sebuah batu karang. Karena iseng, dia pun mengambilnya, dan kerena dilihatnya kotor, dia pun menggosok-gosoknya lampu dengan bajunya. Tiba-tiba, muncullah seorang Jin.

“Baik, cukup sudah!” bentak Jin itu. “Ini keempat kalinya dalam bulan ini orang menggangguku! Aku begitu marah sampai aku hanya akan memberimu satu permintaan!!! Ingat, cuma satu, bukan tiga! Jadi ayo! Katakan apa yang kau inginkan. Cepat, karena waktuku sangat berharga!!!”

Pria itu pun berpikir cepat. Sejurus kemudian dia berkata, “Yah, aku selalu bermimpi pergi ke negeri tetangga untuk berbelanja. Tetapi masalahnya aku takut terbang dan cenderung mabuk laut di atas kapal. Bagaimana kalau kau buatkan aku jembatan ke sana? Dengan begitu, aku bisa naik mobil ke sana.”

Jin itu tertawa. “Jembatan ke negeri sebelah?! Kau pasti bercanda? Bagaimana aku bisa mendapat penyangga yang sampai ke dasar samudera? Itu membutuhkan terlalu banyak baja, dan sangat terlalu banyak beton! itu sama sekali tidak bisa dilakukan! Pikirkan permintaan lain!”

Kecewa, pria itu berusaha keras untuk memikirkan permintaan lain. Akhirnya ia berkata.

“Baiklah, aku punya keinginan lain. Semua wanita dalam hidupku berkata aku tidak peka. Aku berusaha dan berusaha untuk menyenangkan mereka, tetapi tidak ada yang berhasil. Aku tidak tahu di mana kesalahanku.

Satu permintaanku adalah untuk mengerti wanita ...
Tahu bagaimana sebenarnya perasaan mereka ...
Ketika mereka membisu padaku ...
Tahu mengapa mereka menangis ...
Tahu apa yang mereka inginkan ketika mereka tidak ...
Memberitahu aku apa yang sebenarnya mereka inginkan ...
Aku ingin tahu apa yang membuat mereka benar bahagia.”

Sunyi sejenak, kemudian Jin itu berkata, “Kau mau jembatan itu berjalur dua atau empat?”


* * *

Sekilas, mungkin kita --khususnya kaum Adam-- hanya akan tersenyum membaca kisah di atas. Namun sesungguhnya, itulah sebuah realita yang tersaji secara gamblang. Humor tersebut seolah ingin mengatakan betapa kompleks dan rumitnya perasaan, keinginan, dan hati seorang wanita. Dia terlalu dalam untuk diselami, terlalu tinggi untuk disinggahi, terlalu jauh untuk digapai, serta terlalu lebar untuk dirangkul keberadaannya.

Guruku pernah mengatakan bahwa wanita selalu menggunakan emosi dan perasaannya dalam melihat dan merespon kejadian-kejadian yang terjadi di sekelilingnya. Berbeda dengan seorang pria yang lebih mengandalkan akal dan logika sehingga kadang kelihatan selalu berpikir praktis dan realistis. Dan perbedaan yang begitu drastis itulah yang sering menjadi batu sandungan bagi seorang pria untuk memahami seorang wanita.

Banyak contoh yang mudah kita temui di sekeliling kita, yang berbicara bagaimana susahnya seorang pria untuk mengerti dan memahami hati seorang wanita. Misalnya saat seorang wanita berkata: nothing. Bagi seorang pria, kalau berkata nothing, yah memang berarti tidak ada apa-apa. That's simple. Tapi bagi seorang wanita, kata nothing berarti sangat rumit dan panjang penjelasannya. Ia bisa berarti benar-benar nothing, tapi juga bisa berarti ini, berarti itu, dan beraneka arti lainnya. Jadi kalau pria tidak hati-hati menanggapinya, hasilnya bisa barabe. Dia bisa dicap tidak perhatian, tidak tanggap, tidak simpati, cuek, dan seabrek tuduhan-tuduhan lain yang membuat sang pria terheran-heran sendiri. Bagaimana mungkin hanya sebuah kata bisa menciptakan keributan yang menurut pria tidak masuk akal. Namun sekali lagi, itulah wanita.

Sering juga kita dapati sang wanita tiba-tiba saja menangis. Tanpa angin tanpa badai, air matanya mengalir begitu saja. Heran? So pasti. Trus harus bagaimana dong. Kalau didiami, kaum pria akan dikatakan: dasar manusia tidak berperasaan, melihat orang menangis kok hanya diam saja. Tapi kalau didekati dan tanya apa gerangan yang terjadi, bisa-bisa yang didapat adalah tangisan yang lebih kencang ... atau yang ekstrim umpatan yang membuat sang pria geleng-geleng kepala seraya bertanya: mimpi apa aku semalam mendapat 'durian runtuh' seperti itu. Tapi lagi-lagi, hati wanita sulit untuk dipahami ...

Contoh lain mungkin saat sedang berbelanja, let say baju. Ada dua pilihan, yang satu warna kuning, dan satunya warna biru. Seperti biasa sang wanita selalu meminta masukan dari pria harus memilih yang mana. Tapi sebenarnya, dalam hati wanita dia sudah menentukan mau membeli yang mana. Tapi begitulah wanita, selalu susah untuk dimengerti. Jadi, saat pria ditanya beli yang mana, itu adalah sebuah situasi yang sangat mencekam dan serba salah.

Kalau pria mengatakan: beli saja yang kuning, atau yang biru bagus tuh. Tidak menjadi masalah kalau yang kita sebut itu cocok dengan pilihan awalnya, tapi kalau berbeda? Wah ... siap-siap deh mendengarkan omelan seperti ini: dasar tidak tahu selera orang, udah tahu untuk aku bagus yang kuning, masih bilang yang biru. Atau gini: emang kamu sudah kenal aku belum sih? Jelas dari dulu aku suka warna biru, eh ... masih ngomong yang kuning. *padahal sebenarnya ke-2 warna itu adalah warna kesukaannya* Bingung khan?

Tapi jangan juga berkata: menurut kamu yang bagus mana, pilihlah itu. Akibatnya juga sang pria bisa kena semprotan: dasar pria tidak berpendirian, minta masukan aja tidak mampu. Lha ... kalau sudah begini harus bagaimana dong ....

Belum lagi kalau pria diperhadapkan dengan situasi seperti sang wanita tiba-tiba diam, tiba-tiba cerewet, tiba-tiba sedih, tiba-tiba tersenyum sendiri, dan masih banyak tiba-tiba lainnya. Dan saat pria menanyakan ada apakah gerangan yang terjadi, jangan pernah berharap mendapatkan jawaban yang pasti. Percayalah kepadaku: selalu membingungkan dan tidak masuk akal. Kenapa semuanya bisa terjadi: karena begitulah seorang wanita, terlalu susah untuk dipahami.

Jelaskan kepadaku hai kaum Hawa ... harus bagaimanakah supaya kaum Adam bisa mengerti dan memahami hati kalian seutuhnya?

* * *

Wanita bisa ditaklukan, tapi pasti ada satu sisi hatinya yang tidak mungkin bisa ditaklukkan. Hati wanita ada satu jendela, dan jendela itu terkunci rapat bahkan untuk orang yang ia paling cintai sekalipun. Hati itu adalah perasaannya yang ke enam ...

Tidak ada komentar: